(lanjutannya nih) PJB
Sesuai janji ya gaes.. di sini aku bakal ngelanjutin topik yang masih ada kaitannya dengan LHC, alias ilmu yang aku dapetin selama ikut seminar dan gathering hari ini :)
****
Langsung aja yakk.
Jadi,
sebelum dokter Mahrus menjelaskan dengan sederhana apa itu PJB, penyebab, dan
penanganannya, terlebih dulu dokter Mahrus ngejelasin soal beberapa hambatan
yang dialami selama menangani kasus PJB di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Tentang Tenaga Medis,
Fasilitas Sarana dan Prasarana.
-
Tenaga
Medis
Yang perlu kita tahu, tenaga medis dokter
spesialis jantung anak di Indonesia khususnya di Jawa Timur masih sangat
sedikit. Buktinya, di Jawa Timur hanya ada tiga
saja dokter spesialis jantung anak, dan salah satunya adalah dokter Mahrus
ini. kalo kata mbak Dian, adalagi sih dua dokter lainya tapi yang paling aku
ingat adalah Prof. Teddy (guru dari dokter Mahrus).
- Fasilitas
Sarana dan Prasarana
Menurut penjelasan dari beliau, di
Indonesia sendiri rumahsakit yang layak untuk melakukan tindakan bagi anak PJB
hanya ada dua. Prtama rumahsakit Harapan Kita di Jakarta, dan kedua adalah RSUD
Dr. Soetomo di Surabaya. Kebayangkan gimana antrinya, puaaaaaanjaaaaaang
banget. bahkan ada lho little heart warrior ini meninggal dunia sebelum
dilakukan tindakan (read: operasi) karena saking panjangnya antrian untuk
operasi. Jangankan operasi, untuk pemeriksaan (ECO jantung) di jawa timur hanya
ada satu alatnya, itupun dipake bersama buat orang dewasa. Alat untuk katerisasi
pun juga begitu, hanya ada satu. Kamar operasi jnatung khusus anak pun
demikian. Bisa dikatakan fasilitas di Indonesia masih sangat minim. Di RSUD
sendiri, jadwal operasi untuk kasus PJB sendiri hanya dilakukan dua kali dalam
seminggu, karena kondisi yang memang ga memungkinkan.
Jadi, apasih PJB itu ??
PJB
itu penyakit jantung bawaan atau conginetal heart defects
Apa yang jadi penyebab seorang anak
mengidap PJB ?
Ada
dua faktor sebenernya yang menyebabkan seorang anak itu mengidap PJB,
1.
Lingkungan,
faktor ini paling besar peranannya buat memicu munculnya PJB pdada anak.
semisal tinggal di daerah yang dekat dengan pabrik sehingga asap dari pabrik
tersebut bisa bikin jantung jadi bermasalah.
2.
Genetik,
ini
biasanya dikarenakan salah satu keluarga ada yang memiliki riwayat kelainan
atau penyakit jantung. Kurang lebih kata dokter Mahrus tadi, peranannya sekitar
10%.
3.
Faktor
dari Ibu. Kalo dari si Ibu sendiri bisa dikarenakan virus
TORCH (yang ini udah pada taun pasti kann), selama masa hamil si Ibu sering
mengonsumsi obat-obatan atau jamu tanpa konsultasi sama dokter, makan dan minum
yang mengandung pestisida atau logam semisal kerang (nahh hati hati ya gaess).
Jenis dari PJB apaan sih ?
PJB
sendiri dibagi lagi menjadi dua. Pertama non-sianotik, merupakan jenis PJB yang
tingkatnya lebih ringan, nonsianotik ini sendiri terdapat lubang di dekat bilik
jantung, bagi anak sendiri ngga ada warna biru di bagian tubunya. Yang kedua
sianotik, nahh yang ini ciri-cirinya terdapat lubang di pembuluh darah aorta
dan aliran darah menuju paru paru, kelainan yang dialami oleh anak PJB jenis
sianotik ini bisa lebih dari satu, dan ciri fisik yang nampak adalah biasanya di
beberapa bagian tubuh terdapat warna biru,
di jenis sianotik ini juga biasanya ada kasus di mana si anak PJB hanya
memiliki satu bilik jantung.
Kenapa warna biru ?
Warna biru sendiri muncul karena anak
PJB yang mengidap jenis sianotik ini biasanya mengalami penyempitan di bagian
oembuluh darah menuju ke paru-paru sehingga kekurangan oksigen bahkan pembuluh
darahnya ada yang menutup juga lhoo gaes, kebayang kan gimana jadinya. Ada juga
disebabkan karena pembuluh darahnya terbalik alias darah kotor dan bersih
campur jadi satu.
Dampaknya apa sih buat si anak?
Yang pasti lubang di dalam jantung
itu, menyebabkan jantung si anak bocor gan. Selain itu aliran darah ke paru
meningkat (yang ini aku gabisa menjelaskan apa dampaknya ke paru paru wkk,
waktu ngedengerin sambil jaga si kucrit Niha wkwk), menghalangi pertumbuhan dan
perkembangan si anak (sehingga biasanya ada anak PJB yang kalo aktif sedikit
pasti mudah lelah dan warna biru itu akan nampak *jadi keinget si Ardi :’)* ), berat
badan yang tak kunjung naik ( bisa stuck di bobot itu aja, atau bahkan
mengalami penurunan).
Gimana penanganan medis yang
biasanya dilakukan ?
Senengnya
ikut acara ini salah satunya adalah, dokter Mahrus ngejelasinnya sampe hampir
detail dan mudah banget dimengerti, termasuk apa aja sih penanganannya buat
anakyang mengidap PJB.
1. Wawancara.
Yang ini pasti dong. Tiap dokter selalu bakal tanya apa aja yang dialami atau
gejalanya apa dulu baru berani maju ke step selanjutnya. Ibaratnya kalo di
psikologi itu, melakukan asesmen (menggali data).
2. Pemeriksaan
: kurang lebih kayak melakukan rontgen gitu sih *maakan kalo ada kesalahan*
3. ECO
: fungsi dari ECO sendiri adalah untuk memastikan jenis kelaianan yang dialami
oleh si anak. alatnya sangat terbatas, sedang antriannya bisa sampe ratusan
bahkan ribuan kalo di RSUD Dr. Soetomo .
4. Operasi
atau tindakan : pastinya setelah melalui proses diskusi dengan para tim dokter
gaes.
5. Pasca
operasi : bagi anak PJB yang dinyatakan sembuh total, maka kontrol hanya
dilakukan selama satu bulan sampe setahun. Tapi kalo bagi anak PJB yang setelah
operasi masih meninggalkan sisa kenangan 1 lubang, maka perlu ada
tindakan lagi atau koreksi, biasanya dialami oleh anak PJB dengan kasus jenis
sianotik dalam hal ini jenisnya lagi itu TOF.
Kabar baiknyaa adalaaaah ...
Setelah
Pak Heru keliling di beberapa tempat di luar negeri seperti Barcelona, India,
dan Malaysia.. akhirnya kita mendapat bantuan berupa pengobatan gratis dan
ditanggung biaya akomodasi serta biaya hidup selama perawatan di sana bagi anak
PJB. Di Malaysia sendiri, pengobatan , biaya akomodasi serta biaya hidup
digratiskan tis tis tis dengan catatan level PJB-nya simpel alias ga berat. Sedangkan
di India seluruh biayanya (sama kayak di Malaysia) juga gratis tis tis dengan
catatan hanya satu kali tindakan si anak dinyatakan sembuh. Kenapa di India ?
emang di sana memadai ? di India sendiri, penanganannya jauh lebuh murah dan
cepat, secara kualitas juga ga kalah sama negara yang sudah maju. Dan semoga
ini menjadi ikhtiar terbaik bagi semua orang tua tangguh di Indonesia untuk
mengikhtiarkan kesembuhan bagi si anak.
****
Mari sama sama saling menguatkan
untuk tetap semangat, tetap merasa bersyukur dengan apa yang kita punya, dan
tetap bermanfaat buat ummat.
+++++ Bonus






Komentar
Posting Komentar