Pujian memang satu hal kebutuhan yg paling disenangi oleh setiap manusia. Dalam psikologi Thorndike, seorang anak pun akan cenderung mengulangi suatu perilaku manakala ia mendapat reward berupa pujian. Selain itu, manusia memiliki pleasure principal (Freud) yakni berupa prinsip yg hanya menginginkan kesenangan semata.
Hubungan dengan sikap kita ialah, kita cenderung merasa senang dan mengulangi suatu perilaku manakala kita mendapat pujian akan apa yg telah lakukan. Semisal ketika kita sedang bercengkrama dengan teman kita, kemudian pada saat tertentu teman kita memuji akan kepribadian kita yg mungkin rendah hati. Apa yg kita rasa saat itu? Ya, tentu saja kita akan merasa senang dgn pujian itu. Pipi kita berubah menjadi merah jambu, mata kita mengisyaratkan lewat tatapan yg berbinar. Gesture tubuh kita memberi tahu pada kita, bahwa kita menyukai pujian tsb. Akan tetapi, terlalu banyak pujian pun juga tidaklah terlalu baik bagi kita. Mengapa? Jawabannya begitu simpel. Manakalah kita banyak mendapat pujian, kita dibuat terbuai oleh pujian yg didapat dr orang orang yg sebenarnya tidak tahu betul bagaimana kita seutuhnya. Kita terbuai hingga akhirnya kita merasa bahwa kita memang layak mendapatkan pujian itu. Akibat paling berbahaya ialah timbulnya sifat sombong yg kemudian tumbuh dalam hati kita, membuat kita lupa bahwa sesungguhnya kita hanyalah manusia yg kecil dan lemah. Kita juga bukanlah manusia yg belum pantas seperti pujian yg kita dengar.
Pujian demi pujian yg kita dapatpun juga membuat kita lupa jika apa yg nampak pada indera penglihatan dan persepsi mereka mengenai diri kita hanyalah bukti jika Allah tengah menutupi aib yg ada pada diri kita. Kita seolah lupa akan hal itu, siapa yg lebih tau mengenai diri kita jika selain Allah dan diri kita sendiri. Kita haruslah senantiasa tuk berbenah dan berbenah, juga menyadari bahwa kita hanyalah hamba Allah yg begitu banyak kekurangan, begitu banyak aib yg masih tersembunyi. Pun juga, haruslah banyak banyak bersyukur. Karena Allah Yang Maha Rahman tak pernah sekalipun membiarkan kita dipandang buruk hingga detik ini.

Komentar
Posting Komentar