Ngoceh Soal LGBT
Yepp! Tulisan kali ini disponsori
oleh fenomena yang lagi membara di tengah masyarakat, tepatnya minggu lalu dan
aku ngerasa sampai sekarang pun masih kerasa panas tiap kali ngedenger,
ngebaca, maupun merhatiin orang-orang yang bahas topik yang aku angkat kali
ini. Big thanks for ILC a.k.a Indonesia Lawyers Club, yang udah jadi
acara bermutu di TV setelah acaranya mbak Nana (Najwa Shihab).
Jadi selama liburan panjang (?)
kemarin, aku habisin buat streaming -no-
maksud aku offline video di YouTube tayangan ILC yang lagi ngebahas keputusan
MK terkait permohonan perluasan norma tentang pasal Zina dan LGBT atas
permohonan AILA (intinya ini komunitas yang peduli sama Ibu dan juga
anak-anak). Sebenernya dari awal aku udah tau berita ini ketika liat banyak timeline
Facebook yang ngebahas soal putusan MK dan Zina plus LGBT, ada yang berdebat
secara ilmiah dan ngga jarang ada yang sampe gontok-gontokan. Kalo aku pribadi
menilai, sebenernya ini soal kesalahan interpretasi kita aja sih tentang
putusan MK tadi. Bagi kelompok A mereka ngerasa menang dan hak-hak mereka
terpenuhi, namun bagi kelompok B putusan MK bakal jadi titik awal kebobrokan bangsa karena membolehkan
perilaku tercela meraja lela di Indonesia. Padahal maksud dari MK ngga
demikian. Oke skip aja ya, daripada nanti ranahnya berubah haha, karena aku
bukan anak hukum yang bisa ngejelasin secara detail.
****
Bicara soal
LGBT sendiri rasanya kurang pas kalo nggak ngebahas juga soal gender. Kenapa kudu
bahas gender lebih dulu? Karena ketika seseorang sudah mengenali apa gender
mereka sebenernya, maka individu itu bakal tau ke mana arah orientasi seksual mereka.
Misalkan saat mengenali gender aku sebagai perempuan, maka aku tau ke mana
nantinya orientasi seksual aku, yepp pastinya ke individu yang gendernya
berlawanan, alias laki laki.
Gender menurut
pemahaman aku pribadi, merupakan pembagian peran secara tegas yang ditanamkan
pada diri laki-laki dan perempuan sejak kecil, sejak kita dilahirkan bahkan
sejak masih di dalam kandungan. Jadi setelah pembagian peran yang secara tegas
inilah, kemudian bakal diserap sama kita (dulu waktu kecil) dan
terinternalisasi ke dalam diri sehingga kita bisa mengenali “aku perempuan” dan
“aku laki-laki”, dengan kata lain persepsi mengenai diri inilah yang disebut
dengan identitas gender.
(+) Kalo individu sudah mengenali
gender mereka, ke mana larinya ?
Tentunya
setelah seseorang mengenali identitas gender mereka, maka akan berkaitan dengan
orientasi seksual – sebuah preferensi yang kita miliki terhadap jenis kelamin
pasangan kita – jadi dengan kata lain orientasi seksual adalah ketertarikan
kita terhadap lawan jenis.
(+) Jadi gimana sama pelaku LGBT
sendiri?
LGBT : Lesbi,
Gay, Biseksual, dan Transgender. Ke-empat nama ini merupakan suatu gangguan,
gangguan apasih? Ntar deh yaa, jawabannya ada di pertanyaaan bawah hahaha. Yang
pasti LGBT ini, menurut aku dan bahkan menurut mayoritas orang di muka bumi
ini, merupakan salah satu bentuk penyimpangan fitrahnya sebagai manusia yang telah
dikaruniai nafsu oleh Yang Maha Menciptakan mereka.
(+) Apa yang ngebikin mereka jadi
berbelok arah demikian?
Kalo ngeliat fenomena
sekarang tentunya ada banyak faktor sih. Ada yang karena traumatik di masa lalu
baik ketika di masa dewasa ataupun di masa kanak-kanaknya individu tersebut,
pola asuh, pergaulan bebas, dan ada juga karena jadiin LGBT ini sebagai ajang
buat ber-“eksplorasi” untuk mencari variasi seks yang lain.
(+) Bener ngga sih LGBT itu
sesuatu yang alami ?
LGBT alami? I
don’t think so. Sekalipun si pak A ketika di acara TV kemarin (kalo tidak
salah) bilang bahwa LGBT khususnya homosex ini alami, nggak pernah ada
penelitian yang mmbuktikan demikian. Di buku psikologi abnormal sendiri, mengatakan
kalopun ada penelitian yang mampu membuktikan, keabsahannya masih diragukan.
Meskipun di
dunia ini ada individu yang memiliki – maaf
rada vulgar - dua alat kelamin sekaligus (hermafrodit), orientasi seksual mereka tetap berfungsi normal dan
mereka tidak termasuk ke dalam orang dengan gangguan semacam LGBT ini. Jadi sudah
jelas kan :)
Justru aku
pribadi menilai kalo orang – orang yang mengatakan LGBT adalah sesuatu yang
terjadi secara alami, maka mereka secara tidak langsung mengatakan bahwa Tuhan
telah menciptakan sesuatu yang nyeleneh
dan banyak ngebawa mudharatnya bagi ummat, sedangkan segala sesuatu yang
diciptakan di dunia ini aja punya manfaat sekalipun itu hanya seekor lebah.
(+) Gimana menurut kacamata
psikologi sendiri?
Di Psikologi
sendiri LGBT dimasukkan ke dalam ranah gangguan seksual, lebih tepatnya gangguan
identitas gender sekaligus gangguan orientasi seksual. Orang yang mengalami
gangguan ini bakal merasa bahwa mereka adalah orang yang berjenis kelamin
berbeda dengan dirinya saat ini dan memiliki ketertarikan seksual terhadap
orang yang berjenis kelamin sama dengan dirinya. Jadi semisal si A secara fisik
adalah laki-laki, namun secara afeksi dan psikologis, dia menilai bahwa dirinya
adalah perempuan dan menyukai individu yang juga berjenis kelamin sama.
Ada juga
individu yang mengalami GIG (gangguan identitas gender) ini menghendaki untuk
melakukan suntik hormon (yang pasti berlawanan dengan jenis kelaminnya saat
itu) dan melakukan operasi untuk menghilangkan karakteristik jenis kelamin sekundernya
melalui operasi, biasanya disebut transeksual.
Seperti yang
udah dijelasin di atas kalo penyebab munculnya LGBT sendiri banyak.
(+) Pengalaman masa lalu individu
Kebanyakan individu
yang menjadi pelaku LGBT sendiri, adalah orang-orang yang punya pengalaman traumatik
di masa lalu, seperti pelecehan seksual di masa kanak-kanaknya yang direpress
(dengan kata lain ditahan ke dalam dirinya)
sehingga bentuk pelampiasannya adalah ketika ia menginjak dewasa.
(+) Kedekatan dengan ortu ketika
di masa kanak-kanak
Di sini jelas
sekali pentingnya figur ayah dan ibu di masa kanak-kanak. Kenapa seorang lelaki
itu bisa menjadi Gay? Karena di masa kecilnya ia tidak memiliki kedekatan
dengan figur seorang ayah dan lebih memiliki kedekatan dengan figur ibu. Begitu
pula sebaliknya dengan perempuan. Sosok yang paling dekat dengan mereka di masa
kecil itulah yang menjadi panutan dalam berperilaku di keseharian dan mengenali
identitas gender sekaligus mengarahkan mereka dalam hal orientasi seksualnya. Ini
juga berlaku sama terhadap individu transeksual.
(+) Kebiasaan di waktu kecil
Salah juga kaprah,
inilah kebiasaan kita. Nganggep biasa aja, padahal rentan bahaya. Ternyata salah
satu pemicu kenapa transeksual, transgender, lesbian, dan gay muncul adalah
seperti berpakaian layaknya lawan jenis (ex. anak perempuan dengan gaya
berpakaian anak laki-laki), melakukan permainan dengan teman-teman dari lawan
jenis sewaktu kecil (ex. Anak laki-laki yang lebih suka bermain dengan kelompok
anak perempuan dibandingkan bermain dengan kelompok anak laki-laki), dan
melakukan permainan yang umumnya dilakukan oleh anak-anak dari lawan jenisnya
(ex. Anak laki-laki lebih suka bermain masak-masakan) swaktu kecil. Toleransi yang
terlalu longgar sebenernya menurut aku juga nggak baik sih, karena anak akan
cenderung menganggap bahwa apa yang dilakukannya itu baik dan justru memperkuat
perilaku mereka.
(+) Pergaulan
Nggak semua orang
orang yang LGBT itu memang karena sejak kecil memiliki GIG, ada juga yang
disebabkan karena pergaulan. Biasanya orang orang yang ikut arus ke dalam lingkaran LGBT adalah mereka yang dulunya memang
tidak memiliki riwayat GIG, namun menjadikannya sebagai ajang buat coba-coba
untuk mencari varasi seks yang lain. Biasanya terjadi pada orang-orang yang
memiliki GIG jenis biseksual. Mereka tetap menikah, namun juga menjadi homosex.
****
Jadi kesimpulannya: silahkan
disimpulkan sendiri yaaa hahaha.
Mohon maaf juga kalo ada
penjelasan yang salah ataupun kurang.
Jangan cemooh mereka, jangan benci
orangnya, cukup doakan semoga hidayah dan rahmatNya datang kepada mereka :)
Sekian dan semoga bermanfaat tulisan
edisi ngoceh ngalor ngidul yang dari pembukaan sampai penutupannya udah ngga
jelas ini yaa! :D

Komentar
Posting Komentar