Ditampar Ibu Indonesia
Ibu Indonesia
Aku tak tahu
Syariat Islam
Yang kutahu sari
konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik
dari cadar dirimu
Gerai tekukan
rambutnya suci
Sesuci kain
pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya
sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat
alam sekitar
Jari jemarinya
berbau getah hutan
Peluh tersentuh
angin laut
Lihatlah ibu
Indonesia
Saat
penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat
mengingat
Kecantikan asli
dari bangsamu
Jika kau ingin
menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang
di duniaku, bumi Ibu Indonesia
Aku tak tahu
syariat Islam
Yang kutahu
suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari
alunan azan mu
Gemulai gerak
tarinya adalah ibadah
Semurni irama
puja kepada Illahi
Nafas doanya
berpadu cipta
Helai demi helai
benang tertenun
Lelehan demi
lelehan damar mengalun
Canting
menggores ayat ayat alam surgawi
Pandanglah Ibu
Indonesia
Saat pandanganmu
semakin pudar
Supaya kau dapat
mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak
dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia
dan kaumnya
****
Masih inget sama puisi di atas?
Yepp, puisi di
atas sempet (dan bahkan mungkin) sampe saat ini masih jadi viral setelah si
penyair yang tidak lain merupakan putri dari Bapak Proklamator kita yang
bernama Sukmawati membacanya di acara 29 Tahun Anne Avantie tepatnya di
Indonesia Fashion Week.
Sebelum baca lebih jauh, ada baiknya kalian
mengerti. Apa yang aku tulis di sini, tidak mengandung makna aku membela beliau
ataupun aku tidak setuju dengan puisi beliau dan bahkan berusaha menjadi ‘sok
suci’ karena memaknai puisi ini. Aku hanya mencoba untuk memaknai puisi ini dari
sudut pandang yang berbeda dan belajar untuk se-objektif mungkin :) nggak
masalah kalo ada yang nggak setuju, karena adakalanya kita nggak sejalan bukan?
Kenapa puisi ini jadi viral?
Yang pasti
lagi-lagi karena bantuan medsos yang cepet banget buat bikin suatu hal bisa
jadi viral. Kita tentu tahu jangankan untuk hal yang ‘berbobot’ seperti ini,
hal yang sebenernya’receh’-pun bisa jadi viral gegara ada medsos. Menurutku
medsos bukanlah satu alasan yang bikin puisi ini jadi viral, tapi lebih
dikarenakan konten di dalam puisi
‘Ibu Indonesia’ yang dianggap kontroversial bagi seluruh umat Muslim di
Indonesia (khususnya), sehingga bikin viral beberapa waktu terakhir. Puisi ini
kemudian banyak memicu pro dan kontra di kalangan masyarakat, khususnya bagi
umat Muslim sendiri, dan aku juga.
Apa respon masyarakat ketika denger puisi ini?
Sekali lagi
ketika puisi ini viral di masyarakat, banyak menuai pro dan kontra. Yang aku
amati baik di dunia nyata maupun di dunia maya (karena kita hidup di dua dunia),
masing masing masyarakat punya respon yang beragam. Mulai dari yang sama sekali
nggak tahu puisi ini, ada yang tahu tapi cuek-cuek aja, ada yang marah sampe
keluar semua umpatan (yang pastinya negatif, karena kalo positif itu pujian
namanya), ada yang membuat puisi balasan, sampe ada yang berusaha untuk
menafsirkan puisi ini bait demi bait.
Aku? Seperti apa responku terhadap puisi ini?
Jujur, pertama
kali aku melihat video ketika beliau membaca puisi ini, aku ngerasa marah dan
tersinggung. Yang pertama kali muncul di otakku adalah ‘kok bisa sih ini orang membandingkan konde dengan cadar, kidung dengan suara adzan? Padahal dia tidak
tahu syariat Islam?’ dan juga ‘kenapa
harus menggunakan agama Islam? Sedangkan Indonesia ini punya banyak agama.”
Tapi kemudian
aku berpikir lagi. Inikan puisi? Bukankah puisi yang ditulis oleh tiap tiap
penyairnya selalu mengandung makna ataupun pesan yang ingin disampaikan? Sama
halnya seperti pesan dari sebuah lagu ataupun film yang hendak disampaikan oleh
pencipta/pembuatnya? Dan aku mulai mempertimbangkan hal itu.
Aku merasa jika
beliau sedang berusaha berkomunikasi dengan kita, memberi tahu kita, dan yang
terpenting mengkritik kita. Ada beberapa point sebenernya yang sedang beliau
sampaikan pada kita, dan aku mencoba untuk mengupasnya satu persatu (sesuai
dengan kemampuanku).
“Aku tidak tahu
syariat Islam”
Satu hal yang aku petik dari bait ini.
Kejujuran pada diri sendiri dan juga terhadap Allaah. Berapa banyak dari kita (termasuk
aku) yang sebenernya sedang membohongi diri sendiri? Mengaku tau dan paham
(karena aku rasa di sini ‘tau dan paham’ memiliki perbedaan makna) aturan
Allaah padahal masih banyak aturan Allaah yang tidak kita ketahui bahkan
memahaminya.
Coba kita ambil satu contoh, semisal
wudhu. Sudah sempurnakah wudhu kita? Sudah sucikah pakaian kita saat digunakan
wudhu? Sudah tepatkah air yang digunakan untuk membasuh anggota tubuh kita?
Berapa banyak dari kita yang wudhu hanya sekadar wudhu?
“Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah, lebih cantik
dari cadar dirimu”
Kembali kita diingatkan
oleh beliau. Yang aku tangkap makna cadar di sini bukan hanya cadar (dalam arti aslinya) tapi juga hijab. Akhir akhir
ini banyak sekali wanita yang berhijrah, ini baik dan sangat bikin iri (kapan
kita bisa seperti mereka?). Tapi kemudian timbul keanehan menurut aku (semoga
pikiran ini bukanlah salah satu bentuk su’udzonku terhadap mereka yang
berhijrah) yang merasa hijrah bukan lagi jadi sebuah niatan dalam diri untuk
berubah melainkan sudah jadi trend atau mungkin fenomena (khususnya di kalangan
wanita).
Sehingga banyak dari kita
(aku pun juga) yang merasa sudah hijrah dengan berpakaian agak lebih
tertutup
tapi lupa menimba ilmu agama. Sehingga yang nampak di masyarakat dan mungkin di
mata beliau, bahwa hijrah (bagi para wanita) hanyalah mengganti gaya berpakaian
saja tanpa mengiringinya dengan belajar ilmu agama untuk merubah akhlak kita
agar lebih baik lagi.
“Lihatlah ibu Indonesia saat penglihatanmu semakin asing”
Menurut
aku di bait ini lebih memiliki makna seperti nasehat seorang Ibu bagi anaknya
(kita sebgaai generasi milenial) yang baik dari segi berpakaian dan perilaku
mulai bergeser arah kiblat. Kalo dulu Indonesia terkenal dengan budaya
ketimurannya baik dalam hal berpakaian dan berperilaku, sekarang semuanya telah
berubah. Arah kiblat kita tak lagi sama, kita lebih suka mengikuti trend yang
diagung-agungkan orang orang barat sana ketimbang melestarikan dan membumikan
budaya Indonesia.
“Yang kutahu
suara kidung Ibu Indonesia sangatlah elok, Lebih
merdu dari alunan azan mu”
Bagian ini adalah bagian
yang paling menohok dan paling menyinggung kita semua, bukankah begitu? Sebelum
aku mengutarakan pendapat, aku mau bertanya, sekali lagi jangan ada dusta di antara kita.
Mana yang lebih kita sukai ? Musik atau suara adzan ?
Jujur, kalo aku sih lebih
suka musik. Aku lebih suka memuji enaknya suara musik ketimbang enaknya suara
adzan ketika didengarkan. Aku juga lebih sering ngasih reward positif ke musik
yang aku sukai ketimbang suara adzan. Dan inilah yang sebenernya hendak ingin disampaikan
oleh ibu Sukma.
Beliau sedang mengingatkan
segala perilaku buruk yang kita tunjukkan sebagai seorang Muslim.
Ketika kita mendengarkan
suara adzan, apakah kita bersegera pergi ke masjid untuk sholat berjamaah (ini
bagi laki-laki khususnya)? Apakah kita berkenan untuk meninggalkan pekerjaan
yang sedang kita lakukan? Mungkin ada sebagian dari kita yang tidak demikian.
Tapi jujur, sebagian lagi dari kita (dan ini yang selalu aku lakukan) bahkan
menganggap adzan bukanlah sesuatu yang spesial dan ditunggu tunggu kecuali
ketika bulan Ramadhan datang. Itupun hanya awalan dari adzan saja yang kita
dengar, selebihnya? Kita sibuk dengan makanan kita masing-masing dan kembali
kita mengabaikannya.
*****
Jadi yang ingin aku sampaikan, sebenernya
semua yang terjadi di sekitar kita tergantung bagaimana sikap kita
menanggapinya. Tergantung pada bagaimana cara kita melihat sebuah fenomena. Dan
tergantung pada bagaimana hati kita dalam memaknai sesuatu. Termasuk pada puisi
Ibu Sukmawati ini.
Aku masih ingat ketika salah satu guru
favorit berkata “Tiap tiap orang akan berbeda dalam memaknai sesuatu. Jika
hatinya bersih, maka akan memaknai segala suatu hal dengan positif dan berusaha
mencari kebaikan di dalamnya. Tetapi, jika hatinya sudah kotor bahkan sangat
keruh, hanya akan menemukan kejelekan-kejelekan (sudut pandang yg negatif) dari sesuatu tersebut."
Dan lagi, meskipun quote ini belum
tentu nyambung sama tulisan yang lagi kalian baca sekarang, aku rasa masih ada
hubungannya.
Jika kau merasa benar, periksa hatimu. Mungkin
ia sedang bengkok
Jika kau merasa
suci, periksa jiwamu. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani.
Jika kau merasa
tinggi, periksa batinmu. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan.
Jika kau merasa
wangi, periksa ikhlasmu. Mungkin ia asap dai amal sholehmu yang hangus dibakar
riya’
-
Ustadz Salim A. Fillaah –
Jadi, kesimpulan selanjutnya. Kita boleh
sensitif terhadap suatu hal, apalagi itu menyangkut agama. Tapi tunggu,
bukankah sebelum kita men-judge kita harus bertabayyun dan berfikir secara matang?
Mohon maaf jika tulisan ini berbeda
pemahaman dengan kalian :) karena tulisan ini hanya media bagi aku yang berusaha
menyampaikan respon mengenai topik yang sempet bikin tali ukhuwah kita lagi
lagi renggang :) juga lebih tepatnya tulisan ini sebagai self reminder .
Sekali lagi kebenaran hanya milik Allaah :)
bukan kita yang seringkali merasa benar padahal masih sering melakukan salah :)
See you on the next post guys !
Komentar
Posting Komentar