Mohon Maaf (Lahir dan Batin) Tidak Menerima Tamu


Taqobbalallahu minna waminkum
Shiyamana wa shiyamakum
Selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1441H

****

Tulisan perdana di tahun 2020.
Semoga bisa jadi bacaan bermanfaat selama berkegiatan #dirumahaja 😊

Di tulisan kali ini aku mau ngomongin soal lebaran tahun ini, dimana mayoritas dari kita ngerasain hal yang beda. Ngga ada sholat ied di masjid, ngga ada jabat tangan yang hangat di antara sesama saudara maupun tetangga, ngga ada kegiatan mudik yang biasanya dilakukan, dan beberapa ‘rutinitas’ lebaran yang biasa kita lakukan.

Sedih? Tentu iya. Berat? Itu sudah pasti. Tapi segala hal yang ga biasa dilakukan bukan berarti selalu mendatangkan keburukan bukan?

Beruntungnya, di lebaran tahun ini kita sedang diajarkan sebuah kebaikan. Menjaga diri sendiri dan keluarga kita demi memutus rantai penyebaran pandemi Covid-19 yang ngga hanya melanda negara kita, tapi juga seluruh negara di dunia.

Ngomongin soal saling menjaga diri sendiri dan keluarga di lebaran kali ini, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Ada yang menerapkan protokol kesehatan bagi setiap orang yang bertamu yang bertamu di rumah kita. Ada yang memajang pengumuman di depan rumah jika sementara waktu tidak menerima terlebih dahulu. Barangkali juga temen temen yang baca tulisan ini punya cara tersendiri dalam menjaga diri sendiri dan keluarga.

Sesuai judul tulisan ini, yang bikin aku tertarik tuh soal majang pengumuman tidak menerima tamu terlebih dahulu karena gegara pengumuman ini, banyak dari kita yang pro-kontra. Aku mau kita liat aja dari sisi kontranya.

Bagi sebagian orang yang kontra sama kegiatan majang pengumuman tidak menerima tamu ini pemikirannya -/+ seperti ini:

-          Loh, mau silaturrahim kok dilarang.
-          Katanya silaturrahim itu mendatangkan kebaikan, kenapa justru ditolak?
-      Ini tuh tradisi loh, harus dipertahankan karena kapan lagi kita bisa seperti ini kalo ga waktu Idul Fitri.
-          Hari biasa ga ada tuh larangan orang luar bertamu, kenapa waktu hari raya justru dilarang?
-    Halaaa, gegayaan pake silaturrahim online. Silaturrahim secara online tuh gaenak. Ga manteb rasanya.
     Dan id id (kalo kata kakek Sigmun Freud, dorongan itu disebut Id)  mereka yang sengaja dirasionalkan agar tuan rumah memaklumi tindakan orang orang seperti itu.

Padahal sebenernya, kalo kita coba renungin sekali lagi tentunya asumsi orang yang kontra ini sama sekali ramashooook saat keadaannya sudah ga kekontrol kayak sekarang. Kenapa?

Pertama, pemilik rumah yang memajang tulisan tersebut bukan menolak orang yang hendak bertamu. Pemilik rumah hanya sedang meminta pemakluman dari tamu tersebut karena mereka sedang belajar untuk mematuhi arahan dari pemerintah dan juga tenaga  kesehatan yang sekarang sedang berjuang buat kebaikan kita.

Kedua, silaturrahim memang mendatangkan kebaikan tapi tunggu dulu. Dengan situasi yang sedang ga baik baik aja kayak sekarang, banyak media yang sebenernya bisa kita manfaatkan supaya tali silaturrahim tetap nyambung.
“Tapi ga semua orang punya hape canggih yang bisa dimanfaatkan untuk akses itu semua”
Gausah mempersulit diri. Aku yakin, sebutut-bututnya hape seseorang, pasti masih bisa dipake buat sms atau telfon kan? Bukannya kita semua dulu tiap hari raya, saling berkomunikasi  dan berkirim ucapan hari raya lewat telfon dan sms?

Ketiga, tentu bakal bahaya kalo kita maksain keinginan kita untuk bertamu ke rumah saudara. Kenapa? Karena kita berpotensi tertular atau bahkan menularkan virus dari dan ke pemilik rumah. Semoga mengerti.

Keempat, dengan tidak berkunjung ke rumah saudara, sebenernya kita sudah berpartisipasi dalam memutus rantai penularan sehingga dengan begitu tugas tim medis tentunya bisa lebih ringan jika pasien positif di daerah kita masing-masing kian berkurang. Bukannya kita juga ingin pandemi ini segera berakhir?

Kelima, terkhusus buat orang-orang yang berfikir “kenapa hari biasa orang yang bertamu ga dilarang, namun ketika idul fitri justru dilarang?” begini argumenku: di hari biasa, jumlah orang yang bertamu tentu ga sebanyak ketika di hari raya. Dengan begitu kita masih bisa melakukan physical distancing dan protokol kesehatan saat ada yang bertamu di rumah kita. Kalo di saat lebaran, bagaimana kita bisa menerapkan physical distancing dan protokol kesehatan secara maksimal dengan jumlah tamu sebanyak itu?
Yakin ruang tamu di rumah kita muat untuk melaksanakan physical distancing? Yakin setiap mereka yang bertamu, bisa menerapkan phbs yang benar bagi diri mereka? Dengan jumlah tamu sebanyak itu, yakin kita sempat menyemprot desinfektan setiap waktu setelah para tamu pulang?
Boleh dong, kalo pemilik rumah punya prinsip kayak Alm. Gus Dur yang santuyyyy dan gamau repot. Kalo dengan majang tulisan justru lebih efisien bagi pemilik rumah untuk menjaga diri dan keluarganya, kenapa harus pilih yang repot bolak balik nyemprotin desinfektan setelah para tamu pergi?

****

Sudah. Sekian tulisan receh dari gadis INFJ macam diriku. Yang setuju monggo, meu menambahkan monggo, ga setuju juga monggo. TERSERAH. Tapi aku cuma ngingetin, kalo kita belum saatnya bilang #INDONESIATERSERAH. #INDONESIAKUDUTETEPIKHTIAR #TETEPISTIQOMAH #TETEPSALINGJAGA biar pandemi ini segera berakhir. Inget, stok orang goblok bin ngeyel dan ga waras di Indonesia boleh banyak, tapi bagi kita yang merasa lebih pinter dan waras jangan nyerah dan jangan ikutin pola pikir yang salah. Mari saling jaga. Saling ngingetin. Saling berjuang. 😊

Mohon maaf kalo ada kata yang ga pantas diucapkan di tulisan ini.
Selamat berlebaran dengan keluarga dan dengan diri sendiri.

-lail’s-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Definisi Kamu dan Aku (Reupload) .

(lanjutannya nih) PJB

Gerbang 20'an