Uhibbuka Fillah

Uhibbuka Fillah..
Kini tepat kita semua memperingati hari Ayah.. Meski seharusnya perayaan Hari Ayah dirayakan setiap hari, pun sama halnya dengan moment moment spesial lainnya. Kita tak perlu menunggu Idul Fitri baru kita salingmeminta dan saling memaafkan. Kita tak perlu menunggu hari Ibu untuk mengungkapkan rasa cinta kita pada ibu kita. Kita tak perlu menunggu Val's Day, barulah kita mengungkapkan rasa sayang kita pada orang di sekitar kita. Kesemua itu seharusnya kita tunjukkan ketika dalam keseharian hidup kita, tak perlu menunggu momentum yang tepat, tak perlu sesuai dengan apa yang tertera di kalender. 
Kini, yang ingin aku ceritakan adalah Hari Ayah.. Aku menyadari bagaimana Ayahku hingga kini sangat mencintaiku, tak peduli seberapa menjengkelkannya aku baginya. Cintanya mungkin tak terbandingkan dengan cinta Senja yang jika suatu saat Allah memang takdirkan untukku. Masih begitu ku ingat bagaimana saat Ayahku rela keluar malam membelikan anggur merah untuk Ibuku yang kala itu sedang mengidam. Setidaknya aku mengerti bagaimana dinginnya angin malam saat itu, namun ia tak mempedulikannya hanya demi menuruti keinginanku yang sesaat itu. Pun aku juga masih ingat bagaimana Ayahku merelakan tangannya hingga menebal karena 'kapalan' akibat terlalu lama berkubang dengan air, demi kelangsungan ekonomi keluargaku. Semua beliau lakukan hanya untuk Aku dan keluargaku. Meski wataknya begitu keras bagiku, namun ia memiliki hati yang lembut. Ia tak mampu membendung air matanya manakala melihat ada orang yang kesusahan, ya dialah ayahku. 
Ayahku yang polos. Aku selalu khawatir saat beliau melakukan bisnis dengan orang asing, bahkan dengan tetangga atau saudara sendiri. Mengapa? Aku khawatir jika ada pihak pihak yang berusaha memanfaatkan kepolosannya. Nyatanya hal ini benar terjadi, saat itu aku masih begitu kecil, tepatnya hanya kakak kakakku yang tau peristiwa itu. Sebelumnya, bukan berarti keluarga kami gila dengan harta warisan, melainkan, kami sedikit marah saat ada salah satu kerabat datang ke rumah meminta bantuan. Bantuannya pun sedikit tak masuk akal, meminjam tanah. Logiskah hal tersebut untuk dilakukan. Mungkin bagi kalian yang membaca ini akan bertanya untuk apa tanah tersebut? Kenapa dipinjam? Kenapa bukan dibeli saja? Baik lupakan saja hal itu. Kemudian, karena alasan orang tersebut adalah kerabat dekat dan adanya perasaan iba, maka dengan mudahnya ayahku meminjamkan tanah tersebut, hingga suatu saat keluarga kami tau bahwa tanah tersebut nyatanya dibangun sebuah rumah! Marah? Mungkin. Kecewa? Ya, tentu saja! Salah seorang kakakku mengusulkan untuk mengusut kasus tersebut, namun dengan polosnya, ayahku hanya berkata "Sudah, yang lalu biarlah berlalu. Biar Allah yang mengurusnya" Allah yaa Rabb..seketika kami semua hanya bisa membelalakkan mata, dan bersikap demikian halnya dengan ayah.
Terakhir yang hingga kini membuat aku selalu merasa bersalah ialah, manakala saat itu aku tengah diantar menuju kampus di pagi buta untuk acara LDK-Gath. Kampus masih sangat sepi kala itu, ayahku bersikukuh untuk menemaniku sampai ada teman temanku yang lain datang. Namun, aku berdalih bahwa sudah banyak temanku di dalam. Tak mau berdebat dengan sikap kerasku, Ayah hanya mengiyakan kemudian pergi. Setelah kepergian ayah, aku sadar bahwa saat itu kampus benar-benar sepi, Ayah tau bahwa aku takut di tempat yang sepi, oleh karenanya sebelumnya ia bersikukuh untuk menemaniku. Kemudian, dengan derap langkah yang sangat pelan, aku mencoba pergi menuju kos temanku, meski saat itu Ayah sebentar-sebentar seolah ingin kembali ke kampusku untuk mengecek apa benar sudah banyak temanku di sana. Saat itu aku merasa begitu sangat bersalah, bodohnya aku mengapa bisa sampai seperti ini. 
Ayah..
Semoga Allah senantiasa menjernihkan hatimu, semoga Allah melindungimu di manapun engkau berada, memberkahi setiap usahamu untuk keluarga kami, dan senantiasa mengaruniakan kebaikan bagi engkau.. 
Mungkin ini menjadi salah satu jalan yang tepat untuk aku mengungkapkan rasa sayangku ayah.. :")
Ana uhibbuka fillah.. terimakasih ayah :)
Dari, Gadis kecilmu yang hendak beranjak dewasa.. temani aku sampai di surga-Nya Allah yah..:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Definisi Kamu dan Aku (Reupload) .

(lanjutannya nih) PJB

Gerbang 20'an