Ngalah, Kalah, Satu Arah


Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)
Sahabat, kali ini perkenankan saya berbagi sedikit pengalaman yang saya dapatkan satu bulan yang lalu. Pengalaman ini mungkin sangat sering dialami oleh seluruh siswa/i ataupun mahasiswa/i di seluruh belahan dunia manapun. Suatu hari tatkala saya membuka pengumuman hasil ujian akhir semester di situs kampus, saya begitu terkejut melihat IP (indeks prestasi) yang merosot dari semester sebelumnya. Fikiranku pun melayang pada beasiswa, harapan tipis bisa dapat beasiswa. Fikirku kala itu. Rasa kecewa bertambah membuncah tatkala melihat hasil yang didapat oleh teman yang ketika ujian menyontek justru lebih bagus bahkan mendapat peringkat pertama dan kedua di kelas. Seluruh raga terasa terhempas ketika mengalami hal semacam ini, virus galau bin baper pun mendadak singgah di jiwa. Esoknya saya seolah berubah drastis menjadi seseorang yang sensitif, mudah tersinggung dan seolah patah semangat. Mata yang sembab pun mendadak menjadi bukti nyata di setiap pagi.
Hingga suatu saat jiwa yang rapuh ini Allah sadarkan melalui tulisan indah karya Ustadz Salim A. Fillah yang kini bisa diakses dengan mudah dalam aplikasi smartphone.
Ngalah mungkin bukan berasal dari kata kalah, melainkan Allah. Dibentuk menjadi ng-Allah yang artinya bersandar dan menyerahkan urusan pada Allah.” –Quote 5, Salim A. Fillah App-
Menurut pemahaman saya kalimat ini mengingatkan kita mengenai satu sikap yang terkadang kita sendiri lalai dalam melakukannya, yakni tawakkal. Menyerahkan urusan kita  pada Allah, bersandar pada Bahu Allah yang Mahakokoh. Mari kita renungi, bukankah Nabi Ibrahim A.S telah mencontohkan sikap tawakkal ini tatkala sang khalilullah dibakar api oleh raja lalim, di saat ada perintah dari Allah untuk meninggalkan Ibunda Siti Hajar dan Nabi Isma’il A.S di tengah tanah yang gersang kemudian disusul dengan perintah Allah yang tak kalah menyayat hati bagi seorang ayah untuk menyembelih anaknya sendiri? Bisakah kita mencontoh apa yang Khalilullah ini lakukan? Mungkin hanya ada beberapa orang yang bisa meneladani beliau, merekalah orang-orang yang Allah anugerahi nikmat ini. Semoga kelak kitalah orang-orang yang Allah anugerahi nikmat untuk bisa senantiasa bertawakkal pada-Nya.
Mungkin tak sedikit dari kita yang begitu sering menggantungkan urusan kita, menyandarkan segala urusan kita pada dzat selain Allah. Terlebih kita pun masih sering dengan sombongnya merasa bahwa hasil baik buruk dan untung-ruginya urusan kita, kitalah yang menentukan. Seakan-seakan kitalah yang paling berhak mengatur bagaimana dan seperti apa hasil yang nantinya kita nikmati. Inilah yang saya alami tatkala masih berada di semester tiga bangku perkuliahan. Saya begitu sombongnya merasa bahwa di semester ini pasti akan mendapatkan beasiswa lagi, saya sudah belajar dengan rajin, mendengarkan penjelasan dosen dengan baik, diskusi bersama teman-teman setiap waktu bahkan menjelang ujian, bahkan hingga amalan-amalan seperti sedekah sebanyak-banyaknya pun telah saya lakukan, hingga lupa bahwa Allah-lah yang berhak menentukan dan kita gantungkan harapan sebanyak-banyaknya.
Subhanallah.. dengan lembut Allah menegur saya yang sebelumnya terlalu menggantungkan pada usaha dan segala bentuk amaliyah yang saya lakukan, melalui tidak mendapat ranking satu dan beasiswa.
Sama halnya dengan kata ngalah yang berarti nge-Allah, maka kalah pun memiliki makna yang masih memiliki orientasi sama. Kalah saya artikan sebagai ke Allah. Apapun yang kita lakukan, hendaklah tetap tujuan akhirnya adalah mencapai ridho Allah SWT. Maka hikmah yang saya dapat ketika mengalami kegagalan meraih peringkat pertama di kelas dan beasiswa adalah bahwa segala aktivitas yang kita lakukan hendaklah segalanya bermuara kepada Allah, bukan agar ranking satu. Terutama dalam hal menjemput ilmu niat pertama kali yang harus kita tanamkan ialah semata karena ingin mendapat ridho-Nya Allah. Jangan lupa pula untuk tetap bermanja, tetap merintih, tetap meminta ke Allah, tetap menghadap ke Allah untuk dimudahkan, diberi kesabaran, dan diberikan ilmu manfaat dan barokah. Bukan sekadar menjemput ilmu, belajar rajin, karena hanya untuk beasiswa. Dengan pengalaman inipun saya kian menyadari bahwa kita tidaklah sepantasnya menjadikan beasiswa sebagai Tuhan yang bisa membantu kita membayar kuliah, beasiswa tak lain hanyalah perantara dari Allah untuk meringankan pembayaran kuliah. Lantas kenapa kita justru berharap pada apa yang menjadi perantara-Nya, namun justru lupa pada Allah Yang Maha Memberi?
Sahabat, pada intinya ngalah dan kalah tetaplah satu arah. Keduanya harus dan tetap bermuara pada Allah, bukan pada apa yang menjadi perantara-Nya. Apa yang kita lakukan tetaplah kita niatkan untuk semata meraih cinta dan ridho Allah, termasuk dalam hal menjemput ilmu. Tidak usah khawatir tidak mendapat beasiswa, rezeki Allah tidaklah hanya sebatas beasiswa di tempat kita menjemput ilmu, ilmu dan rezeki Allah sangatlah luas bahkan lebih luas dari samudra manapun. Semoga Allah jadikan kita semua hamba-Nya yang senantiasa ngalah dan kalah, yang tetap mendekap Allah dengan mesra, dan tak pernah bosan untuk bermanja-manja pada-Nya. Keep hamasah, keep Ngalah dan Kalah, keep istiqomah.  Alhamdulillahirabbil’alamiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Definisi Kamu dan Aku (Reupload) .

(lanjutannya nih) PJB

Gerbang 20'an