Bunda, Carikan Aku Jodoh (Part 2)
“Menikahlah.. Ketika dirimu telah mampu
berdamai dengan tiga hal. Pertama, uang. Kedua, mental. Dan yang ketiga, adalah
diri kita sendiri” Ungkap Hamas ketika menjawab pertanyaan
pertama yang dilontarkan oleh Cak Feb (moderator talkshow Bunda, Carikan Aku Jodoh).
Versi
Serius, Sok Ngerti, dan Sok Puitis ..
Mendengar
kata menikah, siapa yang tidak ingin bersegera untuk menjalankan sunnah
Rasulullaah, yang bahkan apabila kita tidak melaksanakannya, Rasulullaah enggan
untuk menganggap kita sebagai umatnya?
Mendengar
kata menikah, siapa yang tidak ingin untuk menyempurnakan separuh agama? Yang
jika dengan pasangan kita nanti, berharap bisa untuk bersama-sama berubah dalam
kebaikan dan bekerjasama untuk meraih ridhoNya?
Tapi..
sungguh. Menikah bukanlah hal yang bisa dikata mudah untuk dilakukan. Bukanlah
hal yang layak untuk diperlombakan, siapa yang menikah duluan dia yang menang.
Bukan pula, yang jika kita membayangkannya adalah hanya hal-hal yang
menyenangkan saja. Melainkan menikah
juga memberi cerita bagi dua insan yang dalam membangun keluarga masih makan
sepiring berdua, tinggal di kontrakan dengan perabotan yang terbatas, dan naik
turunnya pendapatan dalam keluarga dan masih banyak lagi lainnya.
Maka
bersabarlah wahai hati, di dunia ini tidak ada makhluk yang Allaah biarkan
hidup sendiri tanpa berpasangan. Buktinya siang berpasangan dengan malam, bulan
dengan bintang. Maka bagi kita yang saat ini sedang sendirian, jadilah matahari
yang bersinar terang. Yang cahayanya bermanfaat bagi sesama.
Anyway,
selamat menikmati catatan singkat tentang acara talkshow Sabtu, 25 Maret 2017
kemarin ya gaes. Semoga bermanfaat..
Versi
Acakadut.
Dilihat
dari judulnya sih bikin baper, melting, dagdigdug-duaarrr wkwkwk. Bunda,
Carikan Aku Jodoh.. dengar kata ini apa sih yang ada di pikiran kita?
Perjodohan? Kepasrahan? Malas berkhtiar untuk menjemput rezeki dari Allaah yang
satu ini? Tergesa-gesa karena udah capek nerima undangan pernikahan mulu
sedangkan kamu belum ngasih undangan? Atau kamu ngiri sama mereka yang bisa selfie
berdua sama pasangan halal sedangkan kamu selfie sendirian? Atau jangan-jangan
kamu udah gasabar buat dinafkahin? Wkwkwkwk. :D
Ketika aku
lihat judulnya yang baperable kayak gini, yang sempat terlintas di benak aku
kala itu adalah alasan pertama, ya perjodohan. Seringkali kita lihat
teman-teman kita pacaran sama si A si B si C bahkan sampe si Z, ga pernah
berujung pada pernikahan. Atau dari salah satu pihak sudah begerak maju, nah
kitanya kadang yang glembosi, takut
dan merasa masih belum waktunya. Bisa juga duaduanya sudah bergerak maju,
menghadap orang tua, tapi orangtuanya yang ga setuju. Bisa juga kita yang ga
pernah deket sama lawan jenis, lalu ada yang berani melamar atau kita sudah
srek sama si dia, tapi orangtua kita yang kurang ridho. Lantas kalo sudah
begini apa yang biasanya kita lakukan sebagai anak? Yap, sekali lagi Ayah
Bunda, Carikan Aku Jodoh! Nahh dari sini semua bermula.
Bagaimana Islam memandang perjodohan?
Bolehkah kita sebagai perempuan menolak
laki-laki yang datang melamar?
Bolehkah kita memasang kriteria khusus untuk
calon pasangan kita?
Sejak
zaman Rasulullah, perjodohan itu telah ada. Bahkan putri Rasulullah sendiri
sebelumnya pernah dijodohkan oleh sang Nabi, meski pada akhirnya Sayyidina
‘Ali-lah yan jadi pemenangnya. *nyanyi lagunya Dee Lestari*
Akan
tetapi, dalam hal perjodohan Islam memberi beberapa pandangan (dalam hal ini
halhal yang harus diperhatikan), yang pertama adalah sekufu (sederajat,
memiliki persamaan, dll). Sekufu di sini bukan berarti yang kaya harus dengan
yang kaya, sedangkan yang miskin harus dengan yang miskin. Melainkan sekufu di
sini adalah sama dalam hal agama alias seiman. (bisa baca di beberapa literatur
yang lain yaa). Maka apabila ada seseorang yang melamar/hendak dilamar dia
memilimi ke-empat kriteria : kaya, ganteng/cantik, nasabnya baik,
sholih/sholihah alias agamanya baik, maka lebih utama untuk memilih karena
agamanya saja.
Dalam
melakukan perjdodhan kita juga boleh memasang kriteria yang kita inginkan,
seperti contoh bila pihak perempuan adalah seorang hafidzah, maka boleh
memasang kriteria bahwa laki-laki yang akan diterima adalah yang juga sudah
menghafal Al-Qur’an (dengan catatan ada kekhawatiran,bila tidak seperti ini
takut hafalannya tidak terjaga nantinya setelah menikah). Bunda Siti menjelaskan
saat itu, bahwa bila seseorang laki-laki sudah masuk dalam kategori ‘baik’,
maka diperbolehkan memasang kriteria yang sama dengan dirinya (sederajat dalam
hal keperibadian, keagamaan, dll). Namun bagi seorang wanita, haruslah kriteria
yang dipasang jauh lebih baik dari dirinya, bukan di bawah dirinya. Karena
sejatinya wanita itu harus selalu dibimbing.
Bunda Siti
juga menyatakan bahwa seorang perempuan boleh menolak lamaran yang datang
manakala laki-laki yang melamar suka berbuat fasik (berbuat maksiat), menyembunyikan
sesuatu yang bisa mengancam kehidupan rumah tangganya, dll.
Ayah, Bunda. Aku ingin menikah, bolehkah?
Ayah, Bunda. Ini calonku, bagaimana menurut
kalian?
Mungkin
sebagian besar orang di sekitar kita mengalami hal yang “tidak seberuntung” diri
kita” yakni menikah dengan seseorang pilihan kita sendiri, sehingga yang mereka
alami adalah menikah melalui perjodohan oleh orang tua. Apa daya kita kalo
sudah orangtua yang turun tangan ikut mengikhtiarkan jodoh kita? Kebanyakan
dari kita mungkin hanya pasrah sampe yang paling parah adalah berontak dengan cara kabur dari rumah atau
bisa jadi kawin lari dengan orang yang jadi pilihan kita. Padahal hal tersebut
sepenuhnya bukanlah salah orang tua kita, bisa jadi kesalahan itu hadir dari
kita sendiri.
Menurut
bunda Siti Yudisia, bisa jadi sebagai anak kita kurang handal dalam melakukan
pedekate dengan orang tua, dalam hal ini
adalah meyakinkan kepada orangtua bahwa pilihan kita insyaAllaah akan membawa
kebaikan (selama calon yang kita kenalkan sesuai dengan syarat-syarat yang
dianjurkan oleh agama Islam). atau memang orangtua lebih memahami diri kita
dibanding diri kita sendiri, misalkan kita masih kurang handal dalam merawat
diri sendiri, mengatur keuangan pribadi, belum bisa melakukan
pekerjaan-pekerjaan rumah dengan cara yang benar (bagi perempuan), dsbnya. Oleh
karenanya, tugas kita sebagai anak harus bisa memperbaiki diri selain bisa
meyakinkan orangtua kita. Karena, mana mungkin orang tua mengizinkan kita
menikah jika diri kita masih saja belum menunjukkan progress perbaikan diri.
Menikah
itu juga butuh ilmu. Kak Ghea
menjelaskan bahwa untuk bisa memiliki pernikahan yang sampe berlanjut ke
surgaNya Allah nanti juga butuh ilmu, dan ilmu itu ga hanya kita cari sebelum
menikah saja, bahkan pasca akad yang menjadikan kita sah sebagai suami istripun
ilmu itu harus tetap dijemput. “Sekarang banyak kajian-kajian di majelis ilmu
yang membahas pernikahan, selain jadi media untuk perbaikan diri dan berkumpul
dengan orang sholih, media ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk
menggali ilmu agar pernikahan kita nantinyajadi berkah”. Pesan kak Ghea
selanjutnya adalah selama dalam masa penantian diri, isi waktu luang untuk
berkarya, memberi kebermanfaatan bagi orang banyak, agar waktu penantian kita
kian lebih positif dan seimbang.
Ilmu apa aja sih yang dibutuhin buat menikah?
Kata kak
Ghea dan Bunda Siti itu banyak. Banyak banget, dan ternyata semua itu tetep
kita pelajari setelah kita sah sebagai suami-istri nanti. Mulai dari belajar memanajemen keuangan untuk
rumahtangga, bekerjasama sebagai tim,
memahami karakter pasangan masing-masing, dan yang lainnya.
Tetiba ada yang datang melamar, apa yang harus
dilakukan?
Aku merasa berdesir saat melihatnya, bolehkah
aku langsung melamar?
Ketika ada
seorang ikhwan yang melamar atau merasa tertarik dengan seorang wanita, kita
tidak bisa langsung menerima lamaran itu dan men-judge bahwa dia adalah jodoh
yang sudah Allaah datangkan untuk kita atau seketika langsung melamar si dia.
Melainkan kita bisa bermunajat terlebih dahulu kepada Allah, biasanya dalam
bentuk sholat istikhoroh. Bisa kita sendiri yang melakukan, atau juga orang tua
kita. Petunjuk yang Allah kasih kepada kita juga tak melulu melalui mimpi, bisa
jadi melalui hati kita yang kian merasa yakin dengan si dia, dan kemudahan
dalam setiap urusan berkaitan dengan niat kita untuk menikah.
Sekian
uraian singkat pengalaman dan ilmu yang aku dapet ketika mengikuti talkshow
inspiratif “Bunda, Carikan Aku Jodoh” di Hall Zaitun, Asrama Haji. Sabtu,
25 Maret 2017 kemarin. Semoga bermanfaat yaa.. :) maaf bila ada yang kurang
benar mengenai perjodohan dari sudut pandang Islam beserta klenik-kleniknya dan catatan pembuka di awal. Maklumin, yang nulis
belum punya pengalaman menikah.
Btw, udah
gapunya hutang lagi kan yaaa? Kwkwkkw.
Ps: jangan
tanya, aku nikah kapan. Cukup doakan saja, InsyaAllah H-1 wisuda tahun 2018.
Aamiin.. :)

Komentar
Posting Komentar